Lhokseumawe I Pimpinan Dayah Babur Ridha, Muhammad Husaini, yang akrab disapa Abiya Zulfakar, menyampaikan ajakan penuh kesejukan kepada seluruh masyarakat Aceh untuk kembali merawat persatuan, berpikir jernih, dan menyikapi berbagai persoalan dengan kepala dingin.
Di tengah dinamika sosial yang kerap memunculkan perbedaan pandangan, Abiya Zulfakar mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan, terlebih di antara sesama masyarakat Aceh dan umat Islam. Ia menilai, kecenderungan sebagian pihak yang mudah terprovokasi hingga melontarkan serangan terhadap ulama justru dapat memperkeruh suasana dan merusak nilai kebersamaan yang telah lama dijaga.
Sebagai sosok yang pernah merasakan langsung masa konflik Aceh, Abiya Zulfakar memahami betul sensitivitas sejarah dan semangat perjuangan yang hidup di tengah masyarakat. Namun menurutnya, pengalaman tersebut semestinya melahirkan kedewasaan, ketenangan, serta kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan, bukan sebaliknya.
“Pengalaman masa lalu seharusnya mengajarkan kita untuk lebih tenang dan hati-hati dalam bersikap. Tidak semua hal perlu direspons dengan emosi, apalagi jika berkaitan dengan penjelasan hukum agama dari seorang ulama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ulama memiliki tanggung jawab menyampaikan pandangan keagamaan berdasarkan ilmu yang diyakini, bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta pendapat para ulama terdahulu. Dalam prosesnya, perbedaan persepsi adalah hal yang wajar, namun tidak semestinya berujung pada penghinaan atau serangan pribadi.
Abiya Zulfakar menekankan pentingnya membedakan antara penghormatan terhadap sejarah perjuangan dengan penyampaian hukum agama. Menurutnya, mencampuradukkan dua hal tersebut hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan memperbesar potensi konflik.
Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya para mantan kombatan dan simpatisan perjuangan, agar tidak mudah terbawa arus provokasi di ruang digital yang kerap memancing emosi dan memperuncing perbedaan.
“Orang yang matang dalam pengalaman hidup seharusnya lebih bijak. Kita sudah melewati masa sulit, maka jangan lagi menambah beban dengan ucapan atau tulisan yang menyakiti, terlebih kepada para ulama,” tuturnya.
Lebih jauh, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga adab dalam menyampaikan pendapat. Perbedaan, menurutnya, adalah bagian dari dinamika kehidupan, namun akhlak dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap interaksi.
Di akhir pesannya, Abiya Zulfakar mengimbau siapa pun yang mungkin pernah terlibat dalam penyebaran ujaran kebencian atau sikap merendahkan agar tidak ragu untuk memperbaiki diri.
“Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk introspeksi, memperbaiki sikap, dan kembali kepada nilai-nilai kebaikan. Mari kita jaga lisan, jaga hati, dan rawat persatuan yang menjadi kekuatan kita bersama,” pungkasnya.
Seruan ini diharapkan menjadi pengingat bersama bahwa Aceh yang damai dan bermartabat hanya dapat terwujud melalui kebijaksanaan, saling menghormati, serta semangat persatuan yang kokoh di tengah perbedaan. (Alman)







