Kelompok Tani (poktan) Usai Mengikuti Bintek Pengembangan Model Bisnis Hilirisasi Pangan, Pemanfaatan Digital, dan Business Matching yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe. (Photo : Ist)
Aceh Utara | www.lingkar-pos.com – Upaya memperkuat kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Aceh Utara mendapat dorongan baru. Sebanyak 13 kelompok tani (Poktan) mengikuti Pelatihan Pengembangan Model Bisnis Hilirisasi Pangan, Pemanfaatan Digital, dan Business Matching yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Jumat–Sabtu (29–30/8/2025).
Kegiatan yang dipusatkan di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darul Ulum, Gampong Lhoksetuy, Kecamatan Baktiya, ini menghadirkan narasumber lintas sektor, mulai dari penyuluh agama, perbankan syariah, hingga praktisi hilirisasi pangan.
Kepala Dinas Pertanian Aceh Utara, Erwandi, saat membuka acara menegaskan pentingnya petani berani melangkah lebih jauh dari sekadar produksi.
“Petani tidak boleh berhenti di panen. Hilirisasi memberi ruang untuk menghasilkan nilai tambah, sehingga produk pertanian bisa bersaing di pasar modern, bahkan tembus ekspor,” ujarnya memberi motivasi.
Menurutnya, Aceh Utara memiliki potensi besar, khususnya padi. Namun tanpa inovasi dan digitalisasi, hasil panen hanya akan berhenti di gabah.
“Dengan hilirisasi, petani bisa memproduksi beras premium, olahan pangan, hingga produk turunan seperti sabun beras yang sudah mulai dikembangkan,” tambahnya.
Dipilihnya YPI Darul Ulum sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Pesantren ini menjadi pilot project hilirisasi pangan berbasis beras. Santri bersama masyarakat sekitar telah berhasil mengolah beras menjadi sabun alami dan jajanan tradisional khas Aceh, seperti keukarah.
“Pesantren ini memberi contoh nyata bagaimana hasil pertanian bisa diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan nilai jual tinggi,” ungkap panitia.
Model ini diharapkan dapat ditiru Poktan lain agar tidak hanya mengandalkan penjualan gabah, tetapi juga produk turunan yang lebih menjanjikan.
Selama dua hari, peserta dilatih dalam berbagai aspek kunci, meliputi:
Konsep hilirisasi padi dan manfaat ekonominya
Peluang usaha di pasar lokal maupun ekspor
Standar mutu dan sertifikasi produk
Strategi pemasaran berbasis digital
Pengembangan model bisnis kelompok tani,
Hadir sebagai narasumber antara lain:Basriadi, Penyuluh Agama Islam Kemenag Aceh Utara yang juga praktisi hilirisasi pangan, Riemas Anugrah Maulana, Kepala Unit Pengembangan UMKM, KI, dan Syariah BI Lhokseumawe Rudy Irwansyah, serta perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI) area Lhokseumawe.
Menariknya, kehadiran penyuluh agama dalam forum ini memperlihatkan peran multifungsi tokoh agama di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya membimbing soal spiritual, tetapi juga ikut mendorong umat agar mandiri secara ekonomi melalui sektor pangan halal dan berkelanjutan.
Business Matching: Petani Bertemu Bank
Tak hanya teori, pelatihan juga menghadirkan sesi business matching yang mempertemukan Poktan dengan pihak perbankan. Dari forum ini, petani mendapat kesempatan menjajaki akses pembiayaan syariah serta bimbingan teknis pengelolaan usaha.
“Kami ingin petani bisa naik kelas, dari produsen gabah menjadi pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing,” kata perwakilan BI Lhokseumawe.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir kelompok tani yang lebih kreatif, adaptif dengan digitalisasi, serta berorientasi bisnis. Hilirisasi pangan menjadi jalan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, membuka lapangan kerja baru, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani Aceh Utara. (Alman)