Lingkar Pos
Adventorial

Sosialisasi dan Penyuluhan Memiliki Peran Pencegahan Stunting di Aceh Utara

Foto: Kepala DPMPPKB Aceh Utara, Fuad Mukhtar, S.Sos., M.S.M

Aceh Utara | Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya.

Kepala DPMPPKB Aceh Utara, Fuad Mukhtar, S.Sos., M.S.M. melalui Kepala Bidang Dalduk KB, KS Mohd Azhar, SE, mengatakan, sosialisasi dan penyuluhan merupakan kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan kesehatan dalam mencegah stunting.

“Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun” Kata Azhar

Stunting memiliki gejala-gejala yang bisa Anda kenali, misalnya:
Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat
Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk
Pubertas yang lambat
Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya, Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya.

Azhar mengatakan stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius.

Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun. Stunting memiliki gejala-gejala yang bisa Anda kenali, misalnya: Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat, Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk, Pubertas yang lambat.

Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya, Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya.

“Program-program sosialisasi dan penyuluhan yang ditujukan kepada ibu hamil dan keluarga mereka dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya peran mereka dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal,” ujar Azhar.

Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat akan lebih mampu membuat pilihan-pilihan sehat terkait nutrisi dan kesehatan selama masa kehamilan dan pertumbuhan anak, sehingga dapat mencegah terjadinya stunting dan menghasilkan generasi yang lebih sehat dan tangguh di masa depan.

Selain itu, lanjutnya, program-program penyuluhan juga dapat memberikan informasi tentang pola makan sehat, pilihan makanan bergizi, serta praktik-praktik kesehatan yang penting selama masa kehamilan dan masa pertumbuhan anak, seperti pemberian ASI eksklusif, pola makan seimbang, dan tata cara persiapan makanan yang aman dan higienis.

“Untuk tersedia sumber daya dan dukungan dalam implementasi program-program penyuluhan yang efektif, kita perlu kolaborasi dengan berbagai pihak, baik lembaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan,” tutup Azhar. (ADV)

Related posts

HARGANAS kE-30 DPM-PPKB Aceh Utara Berikan Pelayanan Serentak 1 Juta Akseptor

Redaksi

Aceh Utara Pemegang Saham Terbesar Kedua, Setelah Jual Aset Eks Terminal Lhoksukon

Redaksi

Kadis DPMPPKB Aceh Utara: Posyandu Benteng Utama Menangani Stunting

Redaksi

Leave a Comment