Search

10 September 2026

Puluhan Ribu Warga Tumpah Ruah di Landing, Tgk Habibi Hidupkan Kembali Jejak Samudera Pasai

Dakwah Tgk Habibi Nawawi yang berlangsung di Lapangan Kantor Bupati Aceh Utara

 

ACEH UTARA | Puluhan ribu warga memadati Lapangan Landing, Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu malam (9/9/2026). Lautan manusia tersebut hadir mengikuti rangkaian Milad 800 Tahun Samudera Pasai yang dirangkai dengan tausiah dai muda Aceh, Tgk Habibi An-Nawawi.

Sejak menjelang malam, masyarakat dari berbagai wilayah mulai berdatangan ke lokasi kegiatan. Kepadatan terlihat di sekitar lapangan hingga kawasan panggung utama. Mereka tidak hanya ingin mengikuti rangkaian peringatan sejarah, tetapi juga mendengarkan langsung tausiah Tgk Habibi yang dikenal luas di tengah masyarakat Aceh.

Dai muda tersebut sebelumnya juga dikenal setelah meraih juara pertama dalam salah satu ajang religi di Indosiar. Kehadirannya di panggung Milad 800 Tahun Samudera Pasai menjadi magnet tersendiri bagi jamaah.

Beberapa kali Tgk Habibi menyapa masyarakat yang memenuhi lapangan. Sapaan tersebut langsung mendapat respons dari jamaah, menciptakan suasana yang semakin hidup di tengah kegiatan.

Namun, di balik antusiasme tersebut, pesan utama yang disampaikan Tgk Habibi bukan sekadar hiburan keagamaan. Ia mengajak masyarakat membuka kembali lembaran sejarah Samudera Pasai sebagai salah satu pusat awal perkembangan Islam dan peradaban di kawasan Asia Tenggara.

Dalam tausiahnya, Tgk Habibi mengangkat kisah Sultan Al-Malik as-Saleh serta kehidupan masyarakat Samudera Pasai. Ia juga merujuk pada catatan perjalanan Ibnu Batutah yang pernah mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14.

Menurutnya, catatan perjalanan tersebut memberikan gambaran tentang kehidupan keagamaan, tradisi, serta kondisi masyarakat Pasai pada masa itu.

Tgk Habibi menegaskan, kejayaan Samudera Pasai tidak cukup dipahami hanya dari sisi kerajaan, sultan dan kekuasaan. Di balik sejarah tersebut terdapat perjalanan panjang perkembangan Islam, ilmu pengetahuan, perdagangan, serta hubungan antara ulama dan pemerintahan.

Karena itu, ia mengajak generasi muda Aceh Utara menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran, bukan sekadar cerita yang dikenang setiap tahun.

“Jangan sampai generasi kita hanya tahu nama Samudera Pasai, tetapi tidak memahami nilai dan perjuangan yang pernah dibangun oleh para pendahulu,” pesan Tgk Habibi dalam tausiah tersebut.

Ia menilai peringatan 800 Tahun Samudera Pasai menjadi momentum penting untuk membangun kembali kesadaran sejarah masyarakat, terutama anak-anak muda.

Menurutnya, kejayaan masa lalu seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun masa depan melalui ilmu, akhlak, persatuan dan semangat kerja.

Antusiasme puluhan ribu warga yang hadir malam itu memperlihatkan bahwa sejarah Samudera Pasai masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.

Bagi Aceh Utara, peringatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali jejak peradaban Pasai kepada generasi sekarang dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui perpaduan antara sejarah dan dakwah, pesan tentang Samudera Pasai tidak berhenti sebagai seremoni. Malam itu, Lapangan Landing berubah menjadi ruang bersama untuk mengenang masa lalu sekaligus mengajak masyarakat memikirkan kembali bagaimana nilai-nilai kejayaan Pasai dapat diwariskan dalam kehidupan masa kini.  (Alman)