Search

28 Agustus 2026

Percepat Pelayaran Ro-Ro Krueng Geukuh-Penang, PT PEMA Disiapkan Jadi Operator

Foto: Rapat dipimpin Plt Sekda Aceh Taufik dan diikuti Asisten Sekda Aceh Bidang Perekonomian dan Pembangunan T Robby Irza, Kepala Dinas Perhubungan Aceh T Faisal, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Adi Darma, Kepala Biro Hukum Amrizal J Prang serta sejumlah pihak terkait

Raiz Azhary: Ketua umum Persatuan Wartawan Online (PWO) Aceh.

Kartu Pers Bisa Dicetak, Tapi Kehormatan Wartawan Harus Diperjuangkan.
Menjadi wartawan mungkin mudah. Tetapi menjadi wartawan yang dipercaya, dihormati, dan tetap tegak di tengah tekanan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan keberanian dan integritas.

Di balik sebuah berita yang dibaca masyarakat, ada perjalanan panjang seorang wartawan. Ada langkah kaki menuju lokasi kejadian, percakapan dengan narasumber, pencarian data, verifikasi fakta, hingga keberanian menulis apa yang benar-benar terjadi.

Tidak semua orang yang memegang kartu pers mampu menjalani perjalanan itu.
Menjadi wartawan bukan soal seberapa bagus kartu pers yang tersimpan di dompet. Bukan pula tentang seberapa sering namanya muncul di media sosial. Lebih dari itu, wartawan adalah tentang kepercayaan.

Siapa pun bisa belajar menjadi wartawan. Tidak harus menunggu gelar sarjana, tidak harus lahir dari keluarga wartawan, dan tidak harus memiliki latar belakang tertentu. Yang paling penting adalah kemauan belajar, keberanian bertanya, kemampuan menulis, serta kejujuran dalam menyampaikan fakta.

Namun, perjalanan sesungguhnya dimulai ketika seorang wartawan turun ke lapangan. Di sana, ia akan menemukan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkan. Ada masyarakat yang membutuhkan suara, ada persoalan yang tidak tersentuh, ada kebijakan yang perlu dikritisi, dan ada fakta yang terkadang tidak disukai oleh mereka yang memiliki kekuasaan.

Pada titik itu, seorang wartawan dihadapkan pada pilihan: menulis karena kepentingan atau menulis karena kebenaran..??

Pilihan tersebutlah yang kemudian menentukan harga dirinya. Wartawan yang baik tidak menjadikan berita sebagai alat untuk menekan seseorang. Ia juga tidak menjadikan profesinya sebagai jalan untuk mencari keuntungan pribadi.

Sebaliknya, ia menjadikan pena dan kameranya sebagai alat untuk menghadirkan fakta dan memperjuangkan kepentingan publik. Tentu perjalanan itu tidak selalu mudah.

Ada kalanya wartawan mendapat kritik. Ada yang tidak senang dengan pemberitaan. Ada narasumber yang menolak dikonfirmasi. Bahkan, terkadang tekanan datang ketika sebuah berita menyentuh kepentingan tertentu.

Namun, seorang wartawan harus belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap berdiri pada kebenaran meskipun ada rasa takut.

“Belajar dari Lapangan”

Dunia jurnalistik adalah sekolah yang tidak pernah memiliki hari kelulusan.
Setiap liputan adalah pelajaran. Setiap narasumber memberikan pengalaman. Setiap kesalahan menjadi bahan evaluasi. Dan setiap berita yang ditulis adalah tanggung jawab yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

Wartawan dituntut untuk terus belajar. Belajar membaca keadaan, memahami persoalan, menguji informasi, mengenali kepentingan, dan yang paling penting -belajar membedakan antara fakta dan opini.

Sebab, satu kalimat yang keliru dapat merugikan seseorang. Satu informasi yang tidak terverifikasi dapat menyesatkan masyarakat. Dan satu berita yang ditulis tanpa keberimbangan dapat menghilangkan kepercayaan publik.
Karena itu, wartawan tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus memiliki karakter.

“Jangan takut menjadi wartawan yang jujur”

Bagi wartawan muda, jangan pernah merasa kecil hanya karena belum memiliki nama besar. Mulailah dari hal sederhana. Datang ke lapangan. Bertanya, membaca, mendengar, mencatat, memeriksa fakta.
Belajar dari kesalahan.

Kemudian menulis dengan hati-hati. Tidak perlu terburu-buru mengejar popularitas. Sebab, dalam jurnalistik, nama besar tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari konsistensi dan karya yang terus dipercaya. Jangan pula merasa rendah hanya karena profesi wartawan terkadang dipandang sebelah mata.

Wartawan yang jujur mungkin tidak selalu memiliki banyak uang. Wartawan yang berintegritas mungkin tidak selalu memiliki jabatan. Tetapi ketika tulisannya mampu membantu masyarakat mendapatkan keadilan, mengungkap persoalan, membuka mata publik, atau mendorong perubahan, di situlah nilai sebenarnya dari profesi yang satu ini.

Pada Akhirnya, menjadi wartawan memang mudah.Tetapi menjadi wartawan yang tetap jujur ketika kejujuran itu mahal, tetap berani ketika kebenaran memiliki risiko, dan tetap profesional ketika kepentingan datang menawarkan berbagai godaan – itulah yang sulit.

Kartu pers bisa dicetak dalam hitungan menit. Nama media bisa tercantum di berbagai tempat. Tetapi kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun dan hanya membutuhkan satu kesalahan untuk dihancurkan.

Maka, kepada siapapun yang memilih jalan jurnalistik, jangan hanya bangga menyandang gelar wartawan. Banggalah ketika orang percaya kepada berita yang kita tulis. Banggalah ketika masyarakat merasa memiliki tempat untuk menyampaikan suara.

Dan banggalah ketika suatu hari nanti nama kita dikenang bukan karena banyaknya berita yang kita tulis, tetapi karena kebenaran yang pernah kita perjuangkan melalui tulisan.

Karena pada akhirnya, wartawan boleh kehilangan jabatan, kehilangan popularitas, bahkan kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidupnya. Tetapi jangan pernah kehilangan integritas.

Sebab, kartu pers adalah identitas. Berita adalah karya. Namun integritas adalah kehormatan seorang wartawan. (**)