ACEH TIMUR I Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Paya Naden, Kabupaten Aceh Timur, mendapat sorotan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aceh Future. Sorotan tersebut muncul setelah pengantaran makanan ke Dayah Baitul Huda Al-Aziziyah dinilai tidak mengikuti waktu yang sebelumnya telah disepakati bersama.
Berdasarkan informasi yang diterima dari lapangan, pada Selasa, 28 Juli 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, pihak pengelola dapur MBG mengantarkan makanan berupa nasi ke lingkungan Dayah Baitul Huda Al-Aziziyah.
Namun, waktu pengantaran tersebut dinilai kurang tepat karena pada jam tersebut para santri sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kondisi itu disebut berpotensi mengganggu konsentrasi dan aktivitas pendidikan yang sedang berlangsung di lingkungan dayah.
Ketua LSM Aceh Future, Razali Yusuf, menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, persoalan ini sebenarnya dapat dihindari apabila pihak pengelola MBG menjalankan jadwal pengantaran sesuai dengan waktu yang telah dikoordinasikan sebelumnya.
“Sejak awal sudah kami sampaikan kepada pengelola MBG agar pengantaran makanan dilakukan sekitar pukul 10.30 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB. Apalagi dapur MBG itu sendiri berada di dalam kompleks Dayah Baitul Huda Al-Aziziyah. Seharusnya pihak pengelola lebih memahami kondisi dan jadwal kegiatan para santri,” kata Razali.
Ia menegaskan, LSM Aceh Future tidak mempersoalkan keberadaan maupun tujuan dari Program MBG. Sebaliknya, pihaknya mendukung program tersebut karena dinilai memiliki tujuan yang baik dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, termasuk para santri yang menempuh pendidikan di dayah.
Namun, menurut Razali, pelaksanaan program di lapangan harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan karakteristik masing-masing lembaga pendidikan. Koordinasi antara pengelola dapur MBG dengan pihak dayah dinilai menjadi hal penting agar program tersebut dapat berjalan efektif tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
“Program MBG merupakan program yang baik dan kami tentu mendukungnya. Tetapi dalam pelaksanaannya harus ada kedisiplinan dan koordinasi. Jangan sampai karena pengantaran dilakukan pada waktu yang tidak tepat, kegiatan belajar para santri justru terganggu,” ujarnya.
Razali juga meminta pengelola dapur MBG di Desa Paya Naden untuk melakukan evaluasi internal terhadap mekanisme distribusi makanan, khususnya terkait ketepatan waktu pengantaran. Ia berharap persoalan tersebut tidak dianggap sepele, mengingat kegiatan belajar mengajar di dayah memiliki jadwal yang telah disusun dan harus dihormati oleh seluruh pihak.
“Kami berharap pengelola segera melakukan evaluasi. Jadwal yang sudah disepakati hendaknya dijalankan secara konsisten. Kalau memang ada kendala teknis yang menyebabkan keterlambatan atau perubahan waktu pengantaran, sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak dayah agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kegiatan belajar,” kata Razali.
Ia menambahkan, keberhasilan Program MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan kandungan gizi makanan yang diberikan, tetapi juga oleh tata kelola pelaksanaan di lapangan. Ketepatan waktu distribusi, kebersihan, keamanan pangan, serta koordinasi dengan sekolah maupun dayah merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan.
Menurutnya, program pemerintah tersebut harus dilaksanakan secara tertib dan profesional agar manfaat yang diharapkan benar-benar dirasakan oleh penerima manfaat.
“Jangan sampai niat baik dari program ini justru menimbulkan persoalan baru di lapangan. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Pengelola harus lebih disiplin dan menghormati jadwal pendidikan para santri,” tegasnya.
LSM Aceh Future juga mendorong adanya komunikasi yang lebih intensif antara pengelola dapur MBG, pihak Dayah Baitul Huda Al-Aziziyah, serta pihak terkait lainnya. Dengan koordinasi yang baik, distribusi makanan diharapkan dapat dilakukan pada waktu yang tepat tanpa mengganggu proses belajar mengajar.
Razali berharap seluruh pihak dapat melihat persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi bersama, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap Program MBG. Menurutnya, kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat maupun lembaga sosial merupakan bagian dari upaya untuk memastikan program pemerintah dapat berjalan secara optimal, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
“Kami ingin program ini berjalan dengan baik. Karena itu, kami menyampaikan masukan agar ke depan pengantaran MBG dapat disesuaikan dengan jadwal kegiatan santri. Jika koordinasi berjalan baik, saya yakin program ini bisa memberikan manfaat yang lebih maksimal,” pungkas Razali. (Al)







