ACEH UTARA | Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-800 Tahun Samudera Pasai tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga diharapkan mampu membangkitkan semangat masyarakat Aceh Utara dalam membangun masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Dalam sambutannya, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan sejarah Samudera Pasai sebagai sumber inspirasi sekaligus motivasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Bupati menegaskan, kejayaan Samudera Pasai tidak cukup hanya dikenang melalui berbagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mewarisi semangat para pendahulu yang telah membangun peradaban besar di kawasan Aceh Utara.
“Apakah kita hanya ingin mengenang kejayaan Samudera Pasai? Atau kita ingin mewarisi semuanya?” ujar Bupati.
Menurutnya, masyarakat Aceh Utara bukan sekadar penonton sejarah, melainkan merupakan bagian dari pewaris sejarah yang memiliki tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan dan semangat peradaban yang telah diwariskan para pendahulu.
Samudera Pasai pada masanya dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan, ilmu pengetahuan dan penyebaran Islam. Kejayaan tersebut, kata Bupati, harus menjadi cermin bagi masyarakat masa kini agar terus membangun daerah dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, kerja keras, persatuan, adat serta nilai-nilai syariat Islam.
Momentum Harlah ke-800 Samudera Pasai juga menjadi semakin penting karena Aceh Utara masih menghadapi dampak bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah.
Bupati mengakui, bencana tersebut telah menimbulkan kesedihan, mengganggu aktivitas masyarakat serta menyebabkan kerugian di berbagai sektor. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat kehilangan harapan dan semangat untuk bangkit.
“Bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi jangan sampai merobohkan semangat kita. Banjir boleh meninggalkan lumpur di dalam rumah kita, tetapi jangan biarkan ia meninggalkan keputusasaan di dalam hati kita,” tegasnya.
Karena itu, Bupati menyerukan agar peringatan 800 tahun Samudera Pasai dijadikan sebagai titik balik kebangkitan Aceh Utara. Sejarah kejayaan masa lalu harus menjadi energi untuk menghadapi persoalan hari ini sekaligus menyiapkan masa depan generasi berikutnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, ulama, tokoh adat, pemuda, dunia pendidikan hingga masyarakat umum, untuk membangun Aceh Utara secara bersama-sama.
“Aceh Utara bangkit. Bangkit dengan ilmu, bangkit dengan kerja keras, bangkit dengan persatuan, bangkit dengan menjaga adat, bangkit dengan memperkuat syariat, dan bangkit dengan membangun daerah yang lebih maju dan sejahtera,” katanya.
Seruan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa peringatan 800 tahun Samudera Pasai tidak berhenti pada romantisme sejarah. Sebaliknya, kejayaan masa lalu diharapkan menjadi pijakan moral bagi Aceh Utara untuk memperkuat pembangunan, mempercepat pemulihan pascabencana, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan semangat tersebut, Harlah ke-800 Samudera Pasai diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi menjadi momentum untuk menyalakan kembali optimisme dan tekad bersama dalam mewujudkan Aceh Utara yang tangguh, berdaya saing, berbudaya dan sejahtera. (Alman)







