BANDA ACEH – Pengurus Pusat Lembaga Aceh Future mengingatkan seluruh masyarakat Aceh agar tidak mudah terpancing, latah, maupun ikut menyebarkan berbagai isu yang belum jelas kebenarannya. Sikap gegabah dalam menerima informasi, terutama yang beredar melalui media sosial, dinilai berpotensi menimbulkan salah paham, keresahan hingga mengancam persatuan masyarakat Aceh.
Pucuk Pimpinan Aceh Future, Razali Yusuf, yang akrab disapa Cek Lie, menyampaikan imbauan tersebut saat bersiap berangkat ke Kuta Raja, Banda Aceh, untuk memenuhi undangan Zikir Akbar di Masjid Raya Baiturrahman pada 15 Agustus 2026, dalam rangka memperingati 20 Tahun Perdamaian Aceh.
Cek Lie menegaskan, momentum peringatan perdamaian Aceh seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan bagi seluruh elemen masyarakat untuk kembali memperkuat persaudaraan dan menjaga suasana tetap aman serta kondusif.
“Di tengah kita memperingati 20 tahun Aceh damai, mari kita jaga suasana tetap tenang dan kondusif. Jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” tegas Cek Lie.
Menurutnya, perkembangan media sosial saat ini membuat informasi begitu cepat menyebar. Namun, kecepatan tersebut tidak selalu diikuti dengan kebenaran informasi. Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung percaya terhadap setiap kabar yang diterima, apalagi kemudian ikut menyebarkannya tanpa melakukan tabayyun atau memastikan kebenarannya terlebih dahulu.
“Kita melihat masih banyak warga yang terkadang terlalu cepat menyikapi isu-isu yang sebenarnya tidak penting. Ada informasi yang hanya bersumber dari media sosial, tetapi langsung dipercaya dan disebarkan tanpa tabayyun. Ini yang harus kita hentikan,” katanya.
Cek Lie mengingatkan, persoalan yang awalnya kecil dapat menjadi besar apabila terus dipanaskan dan dibumbui dengan informasi yang tidak benar. Kondisi tersebut, menurutnya, sangat berbahaya bagi Aceh yang selama dua dekade terakhir telah menikmati suasana damai.
“Hal kecil kalau terus dipanaskan bisa merusak persatuan yang sudah susah payah kita jaga selama 20 tahun ini. Aceh sudah damai, jangan kita rusak dengan isu yang tidak jelas,” ujarnya.
Ia menilai, perdamaian Aceh merupakan hasil perjuangan panjang dan harus dijaga oleh seluruh masyarakat, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu. Karena itu, setiap warga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi bagian dari penyebaran provokasi, fitnah maupun informasi yang belum terverifikasi.
Cek Lie juga mengajak masyarakat agar lebih mengedepankan sikap dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat. Perbedaan pandangan, katanya, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan.
“Mari kita belajar menahan diri. Kalau menerima informasi, cek dulu sumbernya, jangan langsung bereaksi. Jangan sampai karena satu informasi yang belum tentu benar, hubungan sesama masyarakat menjadi rusak,” katanya.
Ia berharap pelaksanaan Zikir Akbar di Masjid Raya Baiturrahman dapat menjadi momentum spiritual untuk mengenang perjalanan panjang perdamaian Aceh sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keamanan, persatuan dan kedamaian.
“Mari kita isi peringatan 20 Tahun Aceh Damai ini dengan doa, dzikir dan komitmen menjaga persatuan. Jangan biarkan perdamaian yang telah kita nikmati selama 20 tahun ternoda hanya karena isu-isu yang tidak jelas kebenarannya,” pungkas Cek Lie. (Alman)






