Aceh Utara – Penyakit diare masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat di Provinsi Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Utara. Pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Aceh terus memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan berbasis data, terutama berdasarkan tren kasus pada tahun 2023 dan 2024.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh Utara, sepanjang tahun 2023 tercatat 2.608 kasus diare pada balita dan 3.825 kasus pada usia di atas 5 tahun.
Sementara itu, secara provinsi, Profil Kesehatan Aceh menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat 15.439 kasus diare, dengan sekitar 90,3% kasus telah mendapatkan penanganan sesuai standar medis.
Berikut gambaran tren kasus diare:
2023 (Aceh Utara)
Balita: 2.608 kasus
Usia >5 tahun: 3.825 kasus
2024 (Provinsi Aceh)
Total kasus: 15.439 kasus
Tertangani sesuai standar: 90,3%
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (KP2P), dr. Feryanto mengatakan Data tersebut menunjukkan bahwa diare masih menjadi penyakit endemis yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada kelompok rentan seperti balita.
Pemerintah Aceh dan Aceh Utara telah menjalankan berbagai strategi pencegahan berbasis promotif dan preventif, di antaranya:
Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Edukasi masif dilakukan kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air bersih, serta menjaga kebersihan makanan.
Promosi ASI Eksklusif dan Imunisasi
Dinas Kesehatan menekankan bahwa pemberian ASI eksklusif dan imunisasi dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi, termasuk diare.
Perbaikan Sanitasi dan Akses Air Bersih
Pemerintah daerah terus mendorong pembangunan jamban sehat dan penyediaan air bersih, terutama di wilayah pedesaan dan daerah rawan.
Penguatan Surveilans Penyakit
Sistem pelaporan digital digunakan untuk memantau dan mendeteksi dini potensi lonjakan kasus.
Rencana Aksi Daerah (RAD) Diare dan Pneumonia 2025–2030
Pemerintah Aceh telah menyusun strategi jangka panjang untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat diare.
Selain pencegahan, pemerintah juga memperkuat langkah penanggulangan melalui layanan kesehatan, di antaranya:
Pemberian oralit dan zinc sebagai terapi utama untuk mencegah dehidrasi
Penanganan cepat di puskesmas dan rumah sakit
Validasi dan evaluasi data kasus secara berkala untuk memastikan intervensi tepat sasaran
Pelatihan tenaga kesehatan terkait tatalaksana diare
Cakupan pemberian oralit dan zinc di Aceh Utara pada 2023 mencapai 96,36%, menunjukkan tingginya komitmen pelayanan kesehatan terhadap pasien diare.
Beberapa faktor yang masih menjadi tantangan dalam penanganan diare di Aceh antara lain:
Kebiasaan konsumsi makanan kurang higienis
Sanitasi lingkungan yang belum merata
Akses air bersih yang terbatas di beberapa wilayah
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap PHBS
Data tahun 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa kasus diare di Aceh masih cukup tinggi, meskipun sebagian besar telah tertangani dengan baik. Pemerintah Aceh dan Aceh Utara terus melakukan berbagai upaya strategis ditahun 2025, mulai dari edukasi masyarakat hingga penguatan layanan kesehatan.
Keberhasilan penanggulangan diare tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah utama pencegahan.[Adv]







