Aceh Utara I Delapan bulan setelah bencana banjir hidrometeorologi melanda Kabupaten Aceh Utara, ratusan petani di sejumlah desa terdampak masih harus berjuang memulihkan lahan pertanian mereka yang tertimbun lumpur. Hingga kini, banyak areal persawahan belum dapat difungsikan secara normal sehingga mengancam keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (14/7/2026), warga terlihat bergotong royong mengeruk endapan lumpur menggunakan cangkul, sekop, dan peralatan seadanya. Tanpa bantuan alat berat, mereka berupaya mengembalikan permukaan sawah agar dapat ditanami kembali pada musim tanam mendatang.
Sejumlah petani mengaku terpaksa mengandalkan tenaga dan biaya sendiri karena proses rehabilitasi lahan belum menjangkau seluruh kawasan terdampak. Ketebalan lumpur yang mencapai puluhan sentimeter di beberapa titik membuat sawah sulit diolah, bahkan sebagian lahan masih terbengkalai sejak banjir menerjang pada akhir tahun lalu.
“Kami tidak bisa terus menunggu. Kalau sawah tidak segera dibersihkan, kami kembali kehilangan musim tanam dan penghasilan keluarga,” ujar salah seorang petani.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada hasil produksi pertanian, tetapi juga memperlambat pemulihan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor persawahan. Biaya pembersihan yang cukup besar menjadi beban tambahan bagi petani yang sebelumnya juga mengalami kerugian akibat gagal panen saat banjir.
Meski demikian, semangat kebersamaan masyarakat tetap terjaga. Warga saling membantu membersihkan lahan secara bergiliran dengan harapan sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan dapat kembali produktif.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera memberikan perhatian lebih serius terhadap pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak banjir. Bantuan berupa normalisasi lahan, pengerahan alat berat, perbaikan saluran irigasi, hingga program rehabilitasi pertanian dinilai sangat dibutuhkan agar proses pemulihan tidak berjalan lambat.
Menurut warga, upaya swadaya yang dilakukan saat ini hanya mampu membersihkan sebagian kecil lahan. Tanpa dukungan yang memadai, proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu lebih lama dan berpotensi mengganggu ketahanan pangan serta perekonomian masyarakat pedesaan.
Pemandangan para petani yang setiap hari bergelut dengan lumpur menjadi potret nyata perjuangan masyarakat Aceh Utara untuk bangkit dari bencana. Di tengah keterbatasan, mereka memilih bekerja dan bergotong royong demi menghidupkan kembali sawah yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Namun, mereka berharap perjuangan tersebut tidak dibiarkan menjadi beban masyarakat semata, melainkan mendapat dukungan nyata melalui langkah-langkah percepatan pemulihan dari pemerintah. (Alf)







