Search

25 Agustus 2026

Perjuangan Untuk Kepentingan Rakyat, Merdeka Bukan Sekedar Berkuasa

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar. (Ketua Umum Aceh Bangkit).

Lingkarpos.com | Rakyat Aceh harus berhenti menjadi penonton atas sejarahnya sendiri. Sejarah perjuangan Aceh harus dihormati. Namun sejarah tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan pikiran rakyat pada masa lalu. Setelah konflik berakhir dan perdamaian membuka ruang politik baru, pertanyaan terpenting adalah:

Apa hasil perjuangan itu bagi kehidupan rakyat?

Jika perjuangan dilakukan atas nama rakyat, maka rakyat berhak merasakan manfaatnya. Jika atas nama Aceh, maka rakyat berhak melihat perubahan. Dan jika atas nama Islam, maka ukurannya harus berupa keadilan, amanah, kejujuran dan kemaslahatan.

“Sejarah Bukan Cek Kosong”

Hasan Tiro, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), konflik dan Perdamaian Helsinki merupakan bagian dari perjalanan sejarah Aceh. Peristiwa itu tidak perlu dihapus, apalagi dipertentangkan. Namun sejarah juga tidak boleh menjadi cek kosong bagi siapa pun untuk mengklaim paling berjasa dan paling berhak menentukan masa depan Aceh. Jasa sejarah patut dihormati. Tetapi kekuasaan tetap harus dipertanggungjawabkan.

Rakyat berhak bertanya kepada siapa pun yang memegang kekuasaan: apa yang sudah dilakukan untuk rakyat?

Generasi Baru Tidak Hidup dalam Perang
Generasi Aceh hari ini menghadapi persoalan yang berbeda. Mereka membutuhkan pendidikan yang baik, pekerjaan, ekonomi yang kuat, pemerintahan yang bersih, teknologi dan ruang untuk berpikir. Karena itu, perjuangan tidak boleh terus diwariskan dalam bentuk pertentangan masa lalu.

Perjuangan harus berpindah dari senjata menuju ilmu. Musuh Aceh hari ini bukan sesama anak bangsa. Musuh yang harus dilawan adalah kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakjujuran, ketakutan dan penyalahgunaan kekuasaan.

“Merdeka Bukan Sekadar Berkuasa”

Pergantian penguasa tidak otomatis membuat rakyat merdeka.
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat mampu berpikir tanpa takut, berbicara tanpa tekanan, memilih tanpa dipaksa dan mengawasi kekuasaan tanpa dianggap sebagai musuh.

Karena itu, kritik tidak boleh dipandang sebagai pengkhianatan.
Pertanyaan bukan permusuhan.
Perbedaan pendapat bukan kebencian terhadap Aceh. Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani mengawasi kekuasaan.

“Agama Harus Melahirkan Keadilan”

Islam tidak membutuhkan masyarakat yang takut berpikir. Islam mengajarkan ilmu, akhlak, keadilan dan amanah.
Karena itu agama jangan dijadikan alat untuk membungkam kritik atau memenangkan kepentingan politik.

Ukuran keberagamaan bukan banyaknya slogan, tetapi sejauh mana nilai agama melahirkan keadilan dan kemaslahatan bagi manusia.

“Rakyat Berhak Memeriksa Klaim Sejarah”

Siapa pun yang berbicara atas nama perjuangan harus siap menjelaskan hasil perjuangannya. Jika ada klaim sejarah mengenai hubungan, dukungan atau pengakuan dari pihak tertentu, termasuk lembaga internasional atau negara lain, maka dokumen dan sumber sejarah harus dapat diperiksa.

Bukan untuk menghapus sejarah.
Bukan pula untuk menyerang siapa pun.
Tetapi agar sejarah tidak berubah menjadi mitos yang kebal terhadap pertanyaan.
Sejarah harus dihormati, tetapi fakta harus tetap diuji.

“Budaya Malu Harus Kembali”

Aceh membutuhkan budaya malu.
Malu menyalahgunakan amanah.
Malu memperkaya diri dari jabatan.
Malu menipu rakyat.
Malu menggunakan agama untuk kepentingan kekuasaan. Malu menggunakan jasa perjuangan untuk membenarkan kesalahan. Dan juga malu melihat rakyat masih hidup dalam kesulitan ketika kekuasaan menikmati berbagai fasilitas. Inilah moralitas yang harus dibangun.

“Perjuangan Baru Aceh”

Aceh tidak membutuhkan perang baru.
Aceh membutuhkan generasi baru yang berani berpikir.

Perjuangan berikutnya harus dilakukan melalui: ilmu, pendidikan, ekonomi, politik yang sehat, teknologi, moralitas dan keberanian mengawasi kekuasaan.

Rakyat tidak boleh hanya diberi slogan.
Rakyat membutuhkan bukti.
Tidak cukup diberi simbol.
Rakyat membutuhkan masa depan.
Tidak cukup diminta percaya.
Rakyat membutuhkan ruang untuk berpikir.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perjuangan bukan siapa yang paling lama memegang kekuasaan. Ukuran keberhasilan adalah apakah rakyat Aceh menjadi lebih cerdas, lebih adil, lebih mandiri, lebih bermartabat dan lebih sejahtera.

Perjuangan memang belum selesai.
Tetapi bentuknya harus berubah.
Dulu melawan dengan kekuatan.
Sekarang membangun dengan pengetahuan.

Aceh tidak kekurangan sejarah.
Aceh membutuhkan kesadaran.
Dan kesadaran itu harus dimulai dari satu pertanyaan sederhana:

Aceh bangkit bukan untuk mengulang masa lalu. Aceh bangkit untuk memastikan masa depan tidak kembali menjadi korban masa lalu.

Lantas, sudahkah perjuangan yang mengatasnamakan rakyat benar-benar membuat rakyat menjadi lebih merdeka?

(RAZ)