Search

12 April 2026

Air Mata Ketua Acheh Future Pecah, Kisah Pilu Santri Korban Banjir Menggetarkan Hati

 Aceh Utara I Suasana haru tak terbendung menyelimuti kunjungan Ketua Lembaga Sosial Acheh Future, Razali Yusuf, saat bertemu langsung dengan keluarga santri korban banjir. Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan, ketika mendengar kisah pilu yang kini harus dijalani para santri yang terancam kehilangan masa depan pendidikan mereka.
“Pasca banjir ini, ribuan santri terancam putus pendidikan. Kitab-kitab kuning, perlengkapan mondok, semuanya hanyut dibawa arus. Dalam dua bulan terakhir, kami menerima begitu banyak keluhan dari santri yang belum bisa kembali ke dayah. Apakah ini harus kita biarkan?” ucap Razali dengan suara bergetar, saat mengunjungi tempat tinggal sementara dua santri korban banjir, Sabtu (11/4/2026).
Dua santriwati tersebut, Ulfa Mahera (19) dan Rauzatul Jannah (17), merupakan pelajar di Dayah Asasul Huda, Meunasah Tunong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Keduanya berasal dari Gampong Pante Gaki Balee, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara—wilayah yang juga terdampak parah oleh banjir.
Musibah itu datang tanpa ampun. Saat air meluap, kedua orang tua mereka, Tgk Zulkifli dan Darmiati, tidak sempat menyelamatkan apa pun dari rumah kontrakan mereka. Seluruh isi rumah, termasuk kitab-kitab kuning dan perlengkapan mondok anak-anaknya, hilang terendam banjir.
Kini, keluarga tersebut harus bertahan dalam kondisi serba terbatas. Tgk Zulkifli terpaksa menumpang di bangunan dinas pertanian yang bahkan tidak dialiri listrik. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh, memuat pasir ke dalam dump truk—pekerjaan berat yang jauh dari cukup untuk mengembalikan kehidupan seperti semula.
Di tengah keterbatasan itu, harapan sempat redup bagi Ulfa dan Rauzatul. Keinginan mereka untuk kembali menuntut ilmu di dayah harus tertunda karena tidak mampu membeli kitab.
Namun, momen penuh haru terjadi saat Razali Yusuf menyerahkan bantuan berupa empat set kitab kuning—dua set Kitab Al Mahalli dan dua set Tafsir Jalalain. Seketika, tangis bahagia pecah dari kedua santriwati tersebut. Air mata yang sebelumnya sarat kesedihan, kini berubah menjadi harapan.
“Sudah lama kami ingin kembali mondok, tapi tidak mampu membeli kitab,” ungkap mereka dengan suara lirih.
Razali, yang akrab disapa Cek Lie, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya telah menyalurkan sebanyak 11.700 Al-Qur’an kepada santri dan masyarakat terdampak banjir. Namun, untuk bantuan kitab kuning, baru 27 santri yang bisa dibantu, sesuai dengan keterbatasan donasi yang masuk.
“Kami masih membuka donasi untuk 121 santri lainnya, terutama anak yatim, yatim piatu, dan fakir miskin. Mereka sangat membutuhkan kitab, dari kelas satu hingga kelas lima,” ujarnya penuh harap.
Di akhir kunjungan, Pengurus Pusat Acheh Future menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur dan semua pihak yang telah berkontribusi. Dukungan tersebut menjadi cahaya harapan bagi para santri korban banjir untuk kembali menuntut ilmu dan merajut masa depan.
Di balik derasnya arus yang menghanyutkan harta benda, tersisa satu hal yang tak boleh ikut tenggelam-harapan untuk terus belajar dan bangkit. (Alman)