Lingkarpos | Aceh — Persatuan Wartawan Online (PWO) Aceh mengecam keras aksi brutal yang diduga dilakukan sekelompok preman terhadap Faisal, tokoh asal Aceh Timur yang kini berdomisili di Jakarta Selatan. Seperti diketahui.
Peristiwa itu dinilai sebagai tamparan keras bagi penegakan hukum, karena terjadi di hadapan aparat kepolisian. Insiden pengeroyokan tersebut terjadi di lingkungan Polda Metro Jaya pada Rabu, 26 Maret 2026.
Lebih mengejutkan lagi, aksi kekerasan tersebut berlangsung di depan penyidik, sehingga memicu sorotan tajam publik terhadap keamanan dan kewibawaan institusi penegak hukum..
Kabid Humas PWO Aceh, Azhary, dalam keterangan persnya menegaskan bahwa pihaknya mengutuk keras tindakan tidak manusiawi tersebut.
Ia menilai, jika benar ada pihak yang mengendalikan aksi tersebut dari belakang, maka hal itu merupakan bentuk kejahatan serius yang tidak bisa ditoleransi.
“Kami mengutuk keras aksi pengeroyokan yang dilakukan secara brutal ini. Jika benar ada aktor intelektual di balik kejadian tersebut, maka itu adalah tindakan biadab dan mencederai rasa keadilan,” tegas Azhary.
Ia juga mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan profesional dengan mengusut tuntas dalang pelaku dalam kasus tersebut tanpa pandang bulu.
Menurutnya, baik pelaku di lapangan maupun pihak yang diduga sebagai dalang harus diproses hukum secara transparan.
“Penegak hukum tidak boleh kalah oleh aksi premanisme. Semua pihak yang terlibat harus diusut sampai ke akar-akarnya demi menjaga marwah hukum di Indonesia,” tandasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian itu bermula saat Faisal memenuhi undangan penyidik untuk menghadiri proses konfrontasi di ruang RPK PPA lantai 2 Polda Metro Jaya pada Rabu, 26 Maret 2026.
Namun sebelum pemeriksaan dimulai, sekelompok preman sekitar 20 orang tiba-tiba menerobos masuk ke ruangan dan langsung melakukan penyerangan.
Akibatnya, Faisal mengalami pemukulan dan tendangan bertubi-tubi, bahkan ia nyaris dihantam kursi. Korban dilaporkan mengalami luka memar di bagian kepala dan tubuh.
PWO Aceh menilai, peristiwa ini tidak hanya menyangkut tindak kriminal biasa, tetapi juga menyangkut kredibilitas institusi penegak hukum. Karena itu, pengusutan kasus ini harus menjadi prioritas agar kepercayaan publik tidak semakin terkikis.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak yang diduga terkait dalam insiden tersebut belum memberikan klarifikasi resmi. (**)







