Aceh Utara I Puluhan warga Gampong Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, melakukan aksi pemblokiran jalan utama penghubung Kecamatan Tanah Jambo Aye dengan kecamatan Langkahan pada Senin, 30/3/2026. Aksi tersebut merupakan bentuk protes keras terhadap lambannya penyelesaian proyek jalan di desa mereka yang hingga kini tak kunjung rampung.
Pemblokiran dilakukan dengan cara yang cukup mencolok. Warga menutup badan jalan menggunakan berbagai perabot rumah tangga seperti kursi dan sofa, bahkan menanami ruas jalan dengan pohon pisang. Akibatnya, arus lalu lintas di jalur vital tersebut lumpuh total selama aksi berlangsung.

Aksi spontan ini dipicu oleh kegeraman warga yang sudah berbulan-bulan harus menghadapi dampak buruk dari kondisi jalan yang terbengkalai. Pasca banjir yang sempat melanda kawasan tersebut, material lumpur yang mengering berubah menjadi debu tebal dan beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
“Setiap hari kami hirup debu. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi sudah menyangkut kesehatan,” ungkap salah satu warga di lokasi aksi.
Debu yang beterbangan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak serius bagi kesehatan masyarakat. Kelompok rentan seperti lansia dan balita menjadi yang paling terdampak, namun pada kenyataannya seluruh warga merasakan efeknya tanpa terkecuali.
Warga menilai pihak rekanan atau kontraktor yang telah terikat kontrak kerja tidak menunjukkan tanggung jawabnya dalam menyelesaikan proyek tersebut. Hingga kini, tidak terlihat adanya progres signifikan di lapangan.
“Kami minta kontraktor segera bekerja. Jangan hanya ambil proyek, tapi abaikan kewajiban,” tegas warga lainnya.
Selain itu, warga berharap pemerintah lebih responsif terhadap kondisi yang mereka alami selama ini.
“Pemerintah juga diharapkan, dapat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi rakyat, pembangunan infrastruktur jalan dapat segera diselesaikan”. seru salah satu tokoh masyarakat juga ikut aksi pemblokiran jalan tersebut.
Jalan yang diblokir tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan beberapa wilayah penting di Aceh Utara. Jika kondisi ini terus berlarut, dikhawatirkan akan berdampak lebih luas, termasuk terhadap aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat antar kecamatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai kelanjutan proyek tersebut. Warga menegaskan akan terus melakukan aksi serupa jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa kesabaran masyarakat telah mencapai batasnya. Mereka tidak lagi sekadar mengeluh, tetapi mulai bergerak menuntut hak atas lingkungan yang layak dan sehat. (al)







