Oleh: Ridha Maulana
Mahasiswa PASCASARJANA UINSUNA Lhokseumawe
Perkembangan media informasi yang samakin canggih, semakin mudah informasi didapatkan, ditambah lagi dengan perkembangan AI (artificial Intelligence) yang lagi gencar-gencarnya. Kita menyaksikan sebuah kelamahan besar, dimana masyarakat modern mengagung-agungkan teknologi dan data, malah semakin tidak tahu membedakan kebenaran informasi. dibuktikan banyak yang mempercayai sebuah informasi secara mentah-mentah, contoh terdapat pemberitahuan memenangkan hadiah, dengan mengarahkan kepada web tiruan, padahal dengan perkembangan sekarang sangat mudah untuk menguji sebuah pengetahuan.
Jutaan artikel dan jurnal di akses dengan satu kata kunci, tetapi kemampuan membedakan antara fakta dan opini semakin melemah. Ditekan oleh algoritma, ditutupi oleh popularitas, ilmu yang saharusnya menjadi dasar pemikiran dan sumber pengetahuan, malah diasingkan. Itulah, yang terjadi saat ini dengan filsafat ilmu, kita sadar filsafat merupakan fondasi cara berpikir.
Filsafat ilmu berawal dari sebuah kegelihan manusia, tentang apa itu pengetahuan dan bagaimana cara mendapatkannya. Pada masa yunani kuno, para filsuf mendiskusikan dengan tujuan memahami hakikat kebenaran, yang merupakan cikal bakal bagaimana berpikir ilmiah. Kemudian pada masa Baghdad, Damaskus, hingga Andalusia, ilmuan muslim tidak sekedar menerjemmahkan tetapi juga karya filsuf yunani, juga mengembangkan metode yang lebih kritis dan sistematis.
Pada zaman modern, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, metode eksperimen, rasionalitas dan kritik pada cara berpikir, terdapat di eropa. Dengan kematangan filsafat ilmu sebagai ilmu yang bisa diuji kebenarannya, bisa dipertanggung jawabankan, dan terbuka dengan koreksi yang ada. Tetapi ironisnya, di era digital yang pada dasarnya berpihak pada akal sehat, justru filsafat ilmu dianggap tidak penting. Padahal, sejarahnya memberitahukan bahwa tanpa kerangka berpikir yang benar, manusia akan sangat mudah tertipu akan klaim-klaim yang tampak ilmiah tetapi kosong substansinya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat tokoh yang mencetuskan pemikiran tentang pemikiran filsafat ilmu mulai dari masa yunani kuno, dikembangkan oleh filsuf muslim, hingga pemikir modern yang menggagas pemikirannya. Filsuf tersebut antara:
PLATO (427–347 SM)
Plato percaya bahwa kebenaran tidak dapat ditangkap hanya dengan indera; ia harus dicapai dengan akal yang jernih. Pemisahan antara dunia ide dan dunia realitas mungkin tampak metafisik, tetapi pesan intinya jelas: ilmu harus melampaui hal-hal yang tampak di permukaan. Dalam era sekarang, ini berarti tidak semua yang viral atau populer adalah benar.
SOCRATES (469–399 SM)
Socrates, dalam filsafat ilmu, berpendapat bahwa pengetahuan ilmiah harus dimulai dari kesadaran akan ketidaktahuan; itu harus dicapai melalui metode kritis yang menguji kebenaran secara rasional, dijelaskan secara logis dan universal, dilakukan dengan etika, dan didasarkan pada kejelasan konsep dan definisi yang ketat.
ARISTOTELES (384–322 SM)
Berbeda dari gurunya, Aristoteles menekankan pentingnya pengamatan. Ia memperkenalkan logika sebagai alat utama untuk berpikir. Kita dapat melihat jejak Aristoteles dalam setiap metode penelitian ilmiah: mulai dari observasi hingga klasifikasi. Tanpa logika Aristoteles, dunia akademik mungkin akan lebih kacau daripada kolom komentar media sosial.
PYTHAGORAS (570–495 SM)
Menurut Pythagoras, konsep harmoni dan proporsi matematika adalah dasar kebenaran universal. Ia percaya bahwa pemikiran logis dan pengalaman langsung dapat membantu menemukan kebenaran ini. Dia menggabungkan rasionalisme (pengetahuan tentang logika dan pemikiran abstrak) dan empirisme (pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi di dunia nyata). Pythagoras juga percaya bahwa alam semesta teratur dan saling berhubungan, sehingga matematika dapat digunakan untuk mengukur dan menjelaskannya.
Selain itu, dia percaya bahwa angka memiliki arti misterius dan filosofis. Hingga hari ini, asumsi-asumsi ini menjadi dasar teori matematika, terutama Teorema Pythagoras, yang sangat penting dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
THALES (624–546 SM)
Kemudian pada abad pertengahan, filsafat dikembangkan, dan dikaji kembali oleh pra filsuf muslim. Para filsuf muslim mengkaji berbagai bidang seperti : Epistemologi, metafisika, Politik, logika, kedokteran, Etika, Tasawuf, Filsafat Aristoteles, dan Hukum Islam. Mereka dikenal dengan filsuf islam klasik-abad pertengahan, antaraya:
Al-Kindi (801–873 M)
Al-Kindi melihat ilmu pengetahuan sebagai sebuah sistem yang lengkap, di mana sains dan filsafat terkait erat dengan wahyu Islam dan prinsip rasional. Dalam epistemologinya, Al-Kindi mengedepankan gagasan bahwa pengetahuan berasal dari tiga sumber utama: indera manusia (pengalaman empiris), akal (rasionalitas), dan wahyu ilahi sebagai ilmu tertinggi. Selain itu, ia memperkenalkan gagasan “Intelektual Pertama” sebagai penghubung antara pengetahuan manusia dan wahyu, menekankan bahwa pengetahuan universal tidak dapat diperoleh hanya melalui pengalaman fisik, tetapi harus aktualisasi akal yang dipandu oleh intelek pertama.
Al-Farabi (872–950 M)
Al-Farabi berusaha menyelaraskan akal dan nilai etika. Baginya, ilmu harus membuat masyarakat menjadi lebih baik, bukan hanya lebih cerdas. Di era modern, ketika pengetahuan bisa digunakan untuk manipulasi atau propaganda, pesan Al-Farabi terasa semakin penting.
AL-GHAZALI (1058–1111 M)
Melalui kritiknya terhadap para filosof, Al-Ghazali mengajarkan bahwa pengetahuan harus diuji dengan ketat. Ia tidak anti-filsafat; ia anti-argumen lemah. Semangat kritis Al-Ghazali ini seolah hilang di era ketika orang mudah percaya hanya karena sebuah video “banyak dibagikan”.
IBNU RUSHD (1126–1198 M)
Dikenal sebagai pemikir yang berusaha menggabungkan filsafat dan agama dengan rasionalisme. Ia menghargai penggunaan akal dan logika sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengevaluasi kebenaran. Ibnu Rushd melihat filsafat sebagai alat penting untuk memahami secara sistematis wahyu dan fenomena alam. Dia berpendapat bahwa agama dan filsafat bekerja sama, di mana filsafat tidak bertentangan dengan wahyu, tetapi dapat membantu orang memahami kebenaran ilahi.
Sedangkan terdapat banyak filsuf yang mengemukakan tentang filsafat ilmu, Karl Popper, Thomas Kuhn, René Descartes, Immanuel Kant, dan masih banyak lainnya. sebagaimana yang di sampaikan oleh René Descartes.
RENÉ DESCARTES (1596–1650)
Descartes memulai revolusi besar dalam filsafat modern dengan metode keraguannya. Ia hanya menerima sesuatu sebagai kebenaran jika telah melalui proses berpikir mendalam. “Aku berpikir, maka aku ada” bukan slogan, tetapi ajakan agar manusia tidak malas berpikir.
IMMANUEL KANT (1724–1804)
Kant menyatukan akal dan pengalaman. Ia mengingatkan bahwa cara kita memahami dunia dibentuk oleh struktur berpikir kita sendiri. Ini penting di era media sosial, ketika persepsi lebih sering dibentuk oleh algoritma daripada refleksi.
SIMPULAN
Di tengah banjir algoritma dan informasi yang menyesatkan saat ini, filsafat ilmu menjadi kompas moral dan intelektual yang penting. Warisan filsuf dari Plato hingga Kuhn mengajarkan kita untuk tidak mudah terbuai oleh pernyataan ilmiah yang tampak; sebaliknya, mereka mengajarkan kita untuk terus mempertanyakan, menguji, dan meragukan apa yang mereka katakan.
Untuk mengatasi tantangan kebenaran di era digital, filsafat ilmu harus dimasukkan ke dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Ini berarti mulai mengajarkan anak-anak keterampilan berpikir kritis, mendorong diskusi yang terbuka dan rasional, dan menghargai keragaman pendapat.
Dengan menggunakan fondasi filsafat ilmu yang kuat, kita dapat memberdayakan diri kita sendiri dan generasi mendatang untuk dengan bijak dan percaya diri menavigasi kompleksitas data digital.[]


